ARTIKEL KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
MODUL 2.3
COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
NURRIFDA, S.Pd
CGP ANGKATAN 8, KABUPATEN KARIMUN, KEPULAUAN RIAU
- Tujuan Pembelajaran Khusus
CGP menyimpulkan dan menjelaskan keterkaitan materi yang diperoleh dan membuat refleksi berdasarkan pemahaman yang dibangun selama modul 2 dalam berbagai media.
A. Pemikiran reflektif terhadap pengalaman belajar
- Pengalaman/materi pembelajaran yang baru saja diperoleh
Dalam modul 2.3 saya mempelajari tentang supervisi akademik yang bertujuan untuk pengembangan kompetensi diri setiap pendidik di sekolah. Pendekatan yang digunakan adalah coaching yang memiliki 3 prinsip yaitu kemitraan, proses kreatif dan memaksimalkan potensi. Kompetensi inti coaching diantaranya kehadiran penuh (presence), mendengarkan aktif dan mengajukan pertanyaan berbobot. Percakapan berbasis coaching menggunakan alur TIRTA yaitu tujuan, identifikasi, rencana-aksi dan tanggung jawab. Terdapat 3 tahapan supervisi akademik yaitu pra observasi (perencanaan), observasi (pelaksanaan) dan pasca observasi (tindak lanjut).
- Emosi-emosi yang dirasakan terkait pengalaman belajar
Cemas
Sebelum mempelajari modul ini saya merasa cemas karena khawatir tidak mampu memahami dan mengaplikasikannya.
Tertarik
Saya mulai tertarik mempelajari modul ini ketika melihat video coaching yang dilakukan coach Dita bersama coachee nya
Gembira
Saya merasa gembira saat melakukan praktik coaching bersama CGP lain dalam ruang kolaborasi dan saat demonstrasi konstektual
Optimis
Saya merasa optimis untuk mengaplikasikannya di tempat saya mengajar
- Apa yang sudah baik berkaitan dengan keterlibatan diri dalam proses belajar
Saya sudah mampu melakukan praktik coaching dengan rekan CGP. Menggunakan alur TIRTA saat coaching. Mampu berperan sebagai coach, coachee dan observer (pengamat).
- Apa yang perlu diperbaiki terkait dengan keterlibatan diri dalam proses belajar
Yang perlu diperbaiki adalah ekspresi wajah saat menjadi coach agar selalu terlihat bersahabat
- Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi
Setelah mempelajari modul 2.3 kompetensi saya semakin meningkat yang ditandai dengan saya sudah mampu mempraktikkan coaching sebagai coach menggunakan alur TIRTA, sebagai coachee dan sebagai pengamat (observer). Saat saya mempraktikkan coaching saya harus mampu mengendalikan diri dari berbagai asumsi pribadi dan rasa emosi sehingga muncul kematangan berpikir dan bertindak agar sesuai dengan prinsip coaching yaitu kemitraan, proses kreatif dan memaksimalkan potensi.
B. Analisis untuk implementasi dalam konteks CGP
- Memunculkan pertanyaan kritis yang berhubungan dengan konsep materi dan menggalinya lebih jauh
- Bagaimana agar prinsip coaching dapat diterapkan dalam kegiatan supervisi di sekolah?
Prinsip coaching dapat diterapkan dalam kegiatan supervisi di sekolah jika kepala sekolah memiliki pemahaman tentang coaching dalam supervisi akademik dan mau mengaplikasikannya. Kegiatan supervisi jangan hanya berkaitan dengan penilaian guru saja, namun harus dijadikan sebagai cara untuk meningkatkan potensi guru. Kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan pra observasi (mendiskusikan rencana yang akan dilakukan), observasi dan pasca observasi (membicarakan tindak lanjut dari observasi).
- Mengolah materi yang dipelajari dengan pemikiran pribadi sehingga tergali wawasan (insight) baru
Coaching dalam supervisi akademik dapat mempengaruhi terwujudnya pemimpin pembelajaran yang berpusat pada murid. Pembelajaran yang berpihak pada murid dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan terintegrasi dengan KSE. Oleh karena itu coaching dalam supervisi akademik dapat mengembangkan potensi guru agar dapat meningkatkan kinerjanya sehingga terwujudnya pembelajaran yang berpihak pada murid.
- Menganalisis tantangan yang sesuai dengan konteks asal CGP (baik tingkat sekolah maupun daerah)
Tantangan terberat saya adalah menyamakan persepsi tentang coaching dalam supervisi akademik kepada warga sekolah karena selama ini supervisi akademik dijadikan sebagai penilaian rutin kepala sekolah kepada guru saja, seharusnya dengan supervisi akademik dapat mengembangkan potensi dari guru sehingga kinerja guru menjadi meningkat.
- Memunculkan alternatif solusi terhadap tantangan yang diidentifikasi
Melakukan diseminasi terhadap warga sekolah tentang coaching dalam supervisi akademik saat rapat bersama kepala sekolah dan rekan guru untuk menyamakan persepsi serta memberikan contoh praktik coaching dalam supervisi akademik melalui berbagai media informasi yang dapat diakses oleh warga sekolah.
C. Membuat keterhubungan
- Pengalaman masa lalu
Saya pernah disupervisi oleh kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan asesor. Namun kegiatan tersebut hanya sebatas menjalankan kewajiban dan kurang bermakna. Kegiatan supervisi yang dilakukan tanpa adanya kegiatan pra observasi dan pasca observasi.
- Penerapan dimasa mendatang
Untuk kedepannya kegiatan coaching dalam supervisi akademik harus terus dilakukan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kompetensi guru.
- Konsep atau praktik baik yang dilakukan dari modul lain yang telah dipelajari
Modul 2.1 dengan Modul 2.3
Dalam pembelajaran berdiferensiasi, murid dikelompokkan berdasarkan kebutuhan belajarnya agar dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki, begitu pula dengan praktik coaching yang harus memaksimalkan potensi coachee agar dapat menemukan sendiri solusi atas permasalahan yang dihadapi.
Modul 2.2 dengan Modul 2.3
Dalam pembelajaran sosial emosional (PSE) terdapat teknik STOP dan mindfulness yang dilakukan untuk dapat membuat suasana menjadi lebih kondusif. Saat melakukan coaching pun seorang coach harus menerapkan teknik tersebut agar dapat fokus dan mampu hadir secara penuh saat melakukan coaching dengan coachee.
- Informasi yang didapat dari orang atau sumber lain di luar bahan ajar PGP
Supervisi akademik kepala sekolah, profesionalisme guru dan mutu pendidikan:
Kepala sekolah sebagai supervisor akademik dalam meningkatkan mutu pendidikan hendaknya tidak hanya berbekal pada kemampuan merencanakan program dan strategi pelaksanaan supervisi akademik saja, tetapi harus mampu menindaklanjuti hasil supervisi akademik berupa pembinaan yang diberikan kepada guru yang telaha disupervisinya, sehingga diharapkan akan ada perubahan perilaku positif sebagai hasil pembinaan yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu pendidikan.
(Erni Agustina Suwartini. 2017. Jurnal Administrasi Pendidikan Vol XXIV No.2: Supervisi Akademik Kepala Sekolah, Profesionalisme Guru dan Mutu Pendidikan)
Komentar
Posting Komentar